Hari Ketiga 7 Explorer, Jelajah Kota Banda Aceh Hingga Meulaboh

  • Bagikan

Minggu 9 Agustus 2015, Di hari ketiga ekspedisi 7 Explorer, tim masih tampak lebih bersemangat untuk melanjutkan perjalanan dari Banda Aceh menuju Meulaboh sekaligus mengunjungi tempat pariwisata searah dengan jalur menuju kota Meulaboh.

Rute pertama menuju Kapal Apung Lampulo yang sebenarnya merupakan kapal nelayan yang biasa digunakan oleh masyarakat Lampulo di Banda Aceh untuk melaut. Namun kapal ini sekarang menjadi saksi bisu keganasan bencana Tsunami yang terjadi tahun 2004 silam.

Kapal dengan berat sekitar 65 ton dan panjang sekitar 25 meter ini bias sampai terhempas sejauh 3km jauhnya dari dermaga dan akhirnya terdampar di atap rumah penduduk. Dan uniknya sampai sekarang rumah yang menjadi tempat kapal ini terdampar masih dihuni oleh si empunya rumah.
Setelah puas mengabadikan moment di Kapal Apung Lampulo, tim langsung melanjutkan perjalanan menuju Mesjid Raya Baiturrahman. Mesjid yang menjadi kebanggaan warga Aceh ini dibangun pada saat era kesultanan Aceh. Bagian atap masjid ini dibuat sesuai dengan ciri khas masjid-masjid di Indonesia pada masa itu, atap limas bersusun empat.

Dalam perjalanannya, masjid ini pernah dibumihanguskan oleh Belanda saat serangan ke Koetaradja (Banda Aceh) pada 10 April 1873. Runtuhnya bangunan masjid memicu meletusnya perlawanan masyarakat Aceh. Mereka berjuang mempertahankan masjid hingga darah penghabisan. Pada pertempuran tersebut, pihak Belanda kehilangan seorang panglima mereka, Major General Johan Harmen Rudolf Köhler pada 14 April 1873.

  • Bagikan